Tangan yang memberi lebih baik dari tangan yang menerima. Memang
kalimat dan pemikiran itu sangat benar, Sebagai manusia biasa yang notabene
adalah makhluk sosial kita selalu di anjurkan untuk selalu berinteraksi
dengan orang lain, membantu sesama juga. Tanpa terkecuali juga dengan para
pengemis dan pengamen jalanan.
Rizki itu tidak tentu kadang ada kadang tidak, dan saat
tidak ada kita harus terus mencari dan memutar otak bagaimana untuk
mendapatkannya. Tidak usah dipaksakan untuk memberi kalau nyatanya kita tidak
ada ( minim ) dan tidak usah pura-pura tidur bahkan pura-pura tidak menoleh
kepada mereka.
Di tengah kota yang begitu ramai sering kita jumpai pengamen
dan pengemis di setiap tempat, kita juga pasti sering mengalami bagaimana rasanya
meberikan uang kepada mereka, ada yang bilang terima kasih saat diberi, ada juga
yang tidak sambil berjalan, bahkan ada yang mengucapkan kata-kata yang sedikit
kasar.
Aku pernah naik metromini dari dari Kebayoran Lama kearah Blok M Jakarta saat itu ada pengamen menyanyikan lagu yang tidak jelas, selesai menyanyi dan memainkan alat musiknya mereka berjalan menyusuri penumpang dan menyodorkan kantong plastik dari bungkus permen/ topi /gelas plastik, aku sebagai penumpang punya hak untuk mengatakan “Tidak”. Kemudian terbesit dari mulutnya “Bos 1000 saja lah sini” ini buatku ucapan yang terkesan maksa seperti pemalak.
Pernah juga aku duduk dengan temanku di alun-alun sebuah
kota ada pengemis yang berlalu lalang saat sudah diberi beliau mengucapkan
terima kasih, dan saat kita berpindah tidak jauh dari tempat semula tanpa
sadar beliau menghampiri kami kembali untuk meminta sedekah. Serentak teman
akupun berucap ibu maaf sepertinya kami sudah memberinya. Mungkin ibu lupa lho hehehe
Di tempat lain aku juga pernah mengalami hal yang serupa hampir
setiap setengah jam selalu ada saja pengamen sesekali aku memberi dan sesekali
tidak, nah karna uang kecil ( receh ) habis maka aku stop memberi uang kepada
pengamen dan pengemis yang lewat. Naas banget aku dan temanku bertemu pengamen
yang bertanduk merah hehe. Saat dia menyanyi satu bait dua bait aku lebih dahulu menggerakkan
tangan lima jari, tersenyum, sambil berkata “Tidak”. Eh si pengamen terus saja
melanjutkan menyanyinya, tak puas maka aku bilang ke pengamen itu “Aa punten A’
moal, teu aya uang receh ( Kaka maaf kak, tidak akan, tidak ada uang receh )
kemudan si pengamen menyahut “Aku juga punya mang kalo kembalian ini nih (
sambil dia menunjukkan uang recehnya ), jangan sok mangkannya? orang ada tapi kok
sok”. Omegout teman aku sampai ketakutan.
Suatu ketika juga aku naik Bus Ekonomi ke arah Kampung
Rambutan ada pengemis, karna tidak diberi maka si pengemis itu berucap “Pelit
amat sih mas, semoga dua HP mu itu bisa mengantarkan kamu di surga kelak” sungguh
ironis memang tapi ini fakta lho. Memang tidak semua pengemis seperti itu hanya
sebagian kecil saja.
Nah, baru kemarin ini aku sama anak-anak BPI naik bus dari Purwokerto
ke Wonosobo ada pengamen berpakaian ala Punk karna tidak diberi si pengamen
keluar pintu bus sambil berucap “Huhh Kampret” sambil menendang pintu. Serentak
kamipun kaget, sepertinya pilihan yang tepat untuk tidak memberinya hahay
Fenomena seperti ini mungkin sudah sering terjadi bukan
hanya aku saja mungkin teman-teman semua. Aku bener-bener minta maaf pada para
pengamen maupun pengemis tertentu. Karna sifat seperti ini justru membuat orang
lain tidak rela mengeluarkan uang, apa susahnya sih berucap dengan
kalimat yang baik dan sopan. Mungkin justru dengan baik dan sopan rizkipun akan
mengalir dengan sendirinya, yang awalnya tidak mau memberi jadi ingin memberi. Jadilah pengamen - pengemis yang baik dan profesional hehe
Meskipun begitu kita harus terus menghargai para pengemis, pengamen
dan sebaliknya, tanpa sadar pengemis itu salah satu jalan untuk kita beribadah kepada Tuhan dan
pengamen bagi kita adalah hiburan di saat kita sedang suntuk dengan padatnya
kota, dimanapun itu kita bakal disuguhi dengan suara dan lantunan musik yang
sangat indah ( mereka adalah musisi jalanan yang layak di hargai ).
Salam.
Good... :)
BalasHapus