Lahir di kota Semarang 21 tahun yang lalu, besar di
sebuah kota kecil Timur Indonesia ( Maluku ), meskipun tinggal dan
besar di sana tapi tutur, bahasa dan kesopanan tetap Jawa. Tumbuh menjadi anak yang menurut
teman-teman awalnya pendiam, kalem dan tertutup, tapi semua itu berubah
seiring dengan bertambahnya dewasa, menjadi periang, lebih terbuka, dan
sedikit nakal. Nakal bukan berarti suka minum minuman keras, overdosis
rokok, barang haram, tawuran, jail atau suka main tidak tau aturan. Tapi
nakal yang baik-baik saja *eh maksudnya nakal itu suka kelayaban, kalo
di bahasa Jawain jadi “Ngayab” *hehehe masih wajar kan? Aku
sangat berterima kasih kepada kedua orang tuaku terutama ibu yang telah
melahirkan anak semanis ini yang mempunyai senyum indah*Haha.
mengajarkan aku banyak hal hingga aku tau Siapa itu Allah, Siapa itu
Nabi Muhammad saw, tau mana yang baik dan buruk, mana yang harus di
lakukan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah. Pernah
suatu ketika saat di Jakarta aku merngalami pergaulan dengan anak-anak
yang begitu nakal, suka minum-minuman keras, perokok berat, bahkan di
antara mereka sangat menyukai kehidupan di club malam. Tapi entah
mengapa saat berada di tengah-tengah mereka aku tidak terpengeruh
sedikitpun tetap menjadi anak yang baik *Ciah. Bergaul
dengan mereka ada sesuatu yang berbeda mereka sangat menyenangkan. Nah
untuk itulah aku harus berterima kasih kepada Almarhumah Ibu, beliau
seorang ibu yang kuat, tanggung jawab, dan penyabar. Dulu
saat kecil aku pernah berkelahi dengan teman dan salah satu di antara
kita menangis, ibuku bukannya membela aku tapi membela teman aku itu
meskipun ibuku tau bahwa anaknya ini tidak salah, entah apa yang beliau
pikirkan saat itu. Dan sekarang aku mengerti ibu melakuakan itu semua
supaya aku menjadi anak yang kuat, sudah cukup puas aku mendengarkan
semua omelan dan ceramahnya.
Awalnya aku dan ibu hidup berkecukupan tapi akibat
perpisahan ibu dan bapak semua berubah menjadi tidak stabil. Kamipun
hidup dengan kesederhanaan, dan mungkin yang dipikirkan saat itu
bagaimana beliau biasa mencari uang. Dengan bisa makan dan sekolah saja
aku cukup bersyukur. Saat aku kecil sudah mempunyai tekat dan niat
bakalan terus belajar, sukses dan punya banyak uang ( kaya )sehingga
bisa membuatkan rumah hingga kami biasa hidup bersama, tapi sebelum
semua itu terlaksana beliau meninggal saat aku duduk di bangku 1 SMA (
17 Agustus 2007 ), waktu beliau meninggal bersamaan saat aku menjadi
Pasukan Pengibar Bendera. Seiring bertambahnya dewasa aku
hidup dengan kemandirian berawal dari Taman Kanak-Kanak di kota kecil
Klaten, SD di kota Semarang, SMP di kota Ambon hingga melanjutkan SMA di
kota Bandung aktif di organisasi seperti PII, OSIS, Pecinta Alam,
Kepramukaan, PMR, dan masih banyak lagi. Mungkin aku adalah salah satu
anak yang kurang beruntung dibanding teman-teman aku, setelah kelulusan
dengan mudahnya mereka bisa melanjutkan pendidikan dibangku perkuliahan
aku justru kebingungan. Dengan sisa tabunganku aku berniat untuk
melanjutkan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi kota Jogja jurusan
Managemen Perdagangan meskipun pada akhirnya putus dan memilih bekerja.
Aku punya alasan sendiri mengapa memilih bekerja “lagi-lagi soal
biaya”. Alhamdulillah dengan ilmu yang seadanya aku tak pernah kesulitan
untuk mendapatkan pekerjaan. Sekarang aku bekerja sebagai Adiministrasi
Perkantoran ini adalah tempat ke empat selama aku bekerja, banyak hal
yang aku pelajari di sini. Bagiku tempat bekerja bukan hanya sebagai
sarana mencari uang tetapi juga belajar, aku bakalan terus serap ilmu
sebanyak-banyaknya di sini punya tekat mimpi akan melanjutkan pendidikan
kembali dan berharap bisa sukses. Banyak belajar, berdoa dan bekerja
keras. Tanpa ibu mungkin aku tak akan sekuat ini. Thank You mom.. Miss
You mom..
Bagaimana dengan kalian? Teman teman mungkin punya pengalaman yang lebih baik dari aku atau juga mungkin punya pengalaman yang lebih sulit, tapi di setiap kesulitan atau kesusahan itu pasti ada jalan untuk menyelesaikannya, asal kita mau beusaha. Jadikan masa lalu sebagai penyemangat dan suatu kenangan di hari tua, jangan malu untuk menceritakannya..
Bagaimana dengan kalian? Teman teman mungkin punya pengalaman yang lebih baik dari aku atau juga mungkin punya pengalaman yang lebih sulit, tapi di setiap kesulitan atau kesusahan itu pasti ada jalan untuk menyelesaikannya, asal kita mau beusaha. Jadikan masa lalu sebagai penyemangat dan suatu kenangan di hari tua, jangan malu untuk menceritakannya..
Sekian dari aku.. Terima kasih “continue to keep the spirit and do not easily give up”.
- Mirza S -

cerita yang bagus :)
BalasHapus