Kamis, 17 Januari 2013

Mengenali Aku Lebih Dekat

Lahir di kota Semarang 21 tahun yang lalu, besar di sebuah kota kecil Timur Indonesia ( Maluku ), meskipun tinggal dan besar di sana tapi tutur, bahasa dan kesopanan tetap Jawa. Tumbuh  menjadi anak yang menurut teman-teman awalnya pendiam, kalem dan tertutup, tapi semua itu berubah seiring dengan bertambahnya dewasa, menjadi periang, lebih terbuka, dan sedikit nakal. Nakal bukan berarti suka minum minuman keras, overdosis rokok, barang haram, tawuran, jail atau suka main tidak tau aturan. Tapi nakal yang baik-baik saja *eh maksudnya nakal itu suka kelayaban, kalo di bahasa Jawain jadi “Ngayab” *hehehe masih wajar kan? Aku sangat berterima kasih kepada kedua orang tuaku terutama ibu yang telah melahirkan anak semanis ini yang mempunyai senyum indah*Haha. mengajarkan aku banyak hal hingga aku tau Siapa itu Allah, Siapa itu Nabi Muhammad saw, tau mana yang baik dan buruk, mana yang harus di lakukan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah. Pernah suatu ketika saat di Jakarta aku merngalami pergaulan dengan anak-anak yang begitu nakal, suka minum-minuman keras, perokok berat, bahkan di antara mereka sangat menyukai kehidupan di club malam. Tapi entah mengapa saat berada di tengah-tengah mereka aku tidak terpengeruh sedikitpun tetap menjadi anak yang baik *Ciah.  Bergaul dengan mereka ada sesuatu yang berbeda mereka sangat menyenangkan. Nah untuk itulah aku harus berterima kasih kepada Almarhumah Ibu, beliau seorang ibu yang kuat, tanggung jawab, dan penyabar.  Dulu saat kecil aku pernah berkelahi dengan teman dan salah satu di antara kita menangis, ibuku bukannya membela aku tapi membela teman aku itu meskipun ibuku tau bahwa anaknya ini tidak salah, entah apa yang beliau pikirkan saat itu. Dan sekarang aku mengerti ibu melakuakan itu semua supaya aku menjadi anak yang kuat, sudah cukup puas aku mendengarkan semua omelan dan ceramahnya.
Awalnya aku dan ibu hidup berkecukupan tapi akibat perpisahan ibu dan bapak semua berubah menjadi tidak stabil. Kamipun hidup dengan kesederhanaan, dan mungkin yang dipikirkan saat itu bagaimana beliau biasa mencari uang. Dengan bisa makan dan sekolah saja aku cukup bersyukur. Saat aku kecil sudah mempunyai tekat dan niat bakalan terus belajar, sukses dan punya banyak uang ( kaya )sehingga bisa membuatkan rumah hingga kami biasa hidup bersama, tapi sebelum semua itu terlaksana beliau meninggal saat aku duduk di bangku 1 SMA ( 17 Agustus 2007 ), waktu beliau meninggal bersamaan saat aku menjadi Pasukan Pengibar Bendera. Seiring bertambahnya dewasa aku hidup dengan kemandirian berawal dari Taman Kanak-Kanak di kota kecil Klaten, SD di kota Semarang, SMP di kota Ambon hingga melanjutkan SMA di kota Bandung aktif di organisasi seperti PII, OSIS, Pecinta Alam, Kepramukaan, PMR, dan masih banyak lagi. Mungkin aku adalah salah satu anak yang kurang beruntung dibanding teman-teman aku, setelah kelulusan dengan mudahnya mereka bisa melanjutkan pendidikan dibangku perkuliahan aku justru kebingungan. Dengan sisa tabunganku aku berniat untuk melanjutkan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi kota Jogja jurusan Managemen Perdagangan meskipun pada akhirnya putus dan memilih bekerja. Aku punya alasan sendiri mengapa memilih bekerja “lagi-lagi soal biaya”. Alhamdulillah dengan ilmu yang seadanya aku tak pernah kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Sekarang aku bekerja sebagai Adiministrasi Perkantoran ini adalah tempat ke empat selama aku bekerja, banyak hal yang aku pelajari di sini. Bagiku tempat bekerja bukan hanya sebagai sarana mencari uang tetapi juga belajar, aku bakalan terus serap ilmu sebanyak-banyaknya di sini punya tekat mimpi akan melanjutkan pendidikan kembali dan berharap bisa sukses. Banyak belajar, berdoa dan bekerja keras. Tanpa ibu mungkin aku tak akan sekuat ini. Thank You mom.. Miss You mom..

Bagaimana dengan kalian? Teman teman mungkin punya pengalaman yang lebih baik dari aku atau juga mungkin punya pengalaman yang lebih sulit, tapi di setiap kesulitan atau kesusahan itu pasti ada jalan untuk menyelesaikannya,  asal kita mau beusaha. Jadikan masa lalu sebagai penyemangat  dan suatu kenangan di hari tua, jangan malu untuk menceritakannya..
Sekian dari aku.. Terima kasih continue to keep the spirit and do not easily give up”.

                                                                                                                     - Mirza S -

1 komentar: