KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan
makalah yang berjudul “Akhlak”
Penulisan makalah merupakan salah satu tugas dan
persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam Politeknik Dharma Patria Kebumen. Dalam
penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini,
khususnya kepada :
- Bapak Muhammad Hanifudin selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pkiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini
- Rekan-rekan semua di kelas weekend.
- Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis.
- Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan
yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan
semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Cilacap, 20 Maret 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................................................... 1
Daftar Isi................................................................................................................................ 2
Bab I
Pendahuluan................................................................................................................ 3
A. Latar Belakang......................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.................................................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan...................................................................................................... 4
D. Sistematika
Penulisan.............................................................................................. 4
Bab II Pembahasan................................................................................................................ 5
A. Pengertian Akhlak............ ...................................................................................... 5
B.
Ciri-ciri Akhlak yang Islami....................................................................................6
C.
Macam-Macam Akhlak............................................................................................8
Bab III Penutup..................................................................................................................... 14
A. Kesimpulan.............................................................................................................. 14
B. Saran........................................................................................................................ 14
Daftar Pustaka....................................................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia bukanlah malaikat yang
lepas dari kesalahan dan dosa, sanggup beribadah dan bertasbih selamanya, namun
manusia juga bukan syaitan yang senantiasa salah, sesat dan menyesatkan, akan
tetapi manusia adalah makhluk yang diberikan dan dibekali oleh allah akal dan
nafsu ditambah lagi dengan qalbu kesinambungan akal dan nafsu disertai dengan
hati yang bersih menjadikan manusia mendapatkan derajat yang tinggi dari
malaikat.Kalau kita tengok sejarah kebelakang sebelum islam itu datang, kita
dapat temukan refernsi-referensi tentang bejad dan tercelanya sifat para
kaum-kaum jahiliyah yang tidak mempunyai peradaban yang murni mereka hanya
mengumbar nfsu belaka tanpa mementingkan etika yang baik dan mulia. Ini semua
adallah disebabkan oleh tidak adanya aturan dalam hidup, oleh sebab itu Allah
SWT mengutus seorang nabi yang merupakan nabi dan rosul terakhir yang diutus
hingga akhir zaman untuk menyempurnakan akhlak dimuka bumi ini terkhusus bagi
bangsa arab sendiri sebagaimana diterangkan dalam hadist berikut:
انما
بعثت لاتمم مكارم الاخلاق
Artinya: ‘‘Sesungguhnya
aku (Muhammad) di utus untuk menyempurnakan akhlak’’
Hadits diatas
menunjukan kepada kita, bahwa benar-benar nabi kita Muhammad SAW diutus untuk
menyempurnakan dan memaksimalkan akhlak baik di dunia ini, karena dengan akhlak
baiklah maka kan berbuah syurga yang dinanti.Maka dengan adanya pengutusan nabi
dan rosul terakhir ini terbukti adanya perubahan yang sangat signifikan yang
merubah dari zaman kegelapan menjadi zaman terang benderang. Keadaan ini pun
berlangsung sangat lama karena benar-benar pengaruh nabi Muhammad begitu
terasa.
B. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang dibahas dalam
makalah ini, diantaranya:
·
Pengertian akhlak yang di lihat dari
segi kebahasaan (Linguistik) dan segi peristilahan (Terminologi)
·
Ciri-ciri akhlak yang islami.
·
Macam-macam akhlak yang yang di sertai
hadits sebagai dalil atau penguatnya.
C. Tujuan Penulisan
Secara umum Diharapkan baik
penyusun maupun pembaca dapat lebih memahami dan menerapkan perihal Akhlak
dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga baik penyusun maupun pembaca dapat
menjadi contoh yang baik bagi lingkungannya. Selain itu juga sebagai pemenuhan
tugas mata kuliah Hadits I, agar telaksana tujuan pendidikan yang diharapkan.
D. Sistematika Penulisan
Untuk menjelaskan dari
uraian-uraian yang terdapat pada rumusan masalah, makalah ini dituangkan dalam
sistematika penulisan yang meliputi pendahuluan, isi atau pembahasan dan
penutup/ kesimpulan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian AkhlaK
Ada dua pendekatan
untuk mendefenisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan) dan
pendekatan terminologi (peristilahan). Kata “Akhlak” berasal dari bahasa arab,
jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah
laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan
perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan
khaliq yang berarti pencipta; demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang
diciptakan.
Secara epistemologi
atau istilah akhlak bisa diartikan berbagai perspektif sesuai dengan para ahli
tasawuf diantaranya :
Ibnu Maskawaih memberikan definisi sebagai
berikut:
حَالً
لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لهَاَ اِلَى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya:
“Keadaan jiwa seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui
pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.
Imam Al-Ghozali mengemukakan definisi
Akhlak sebagai berikut:
اَلْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ
هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ اْلَافْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍمِنْ
غَيْرِ حَاجَةٍ اِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya:
Akhlak ialah suatu
sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan
dengan mudah, dengan tidak memertrlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.
Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi,
bahwa yang disebut akhlak “Adatul-Iradah” atau kehendak yang dibiasakan.
Definisi ini terdapat dalam suatu tulisannya yang berbunyi:
عَرَفَ بَعْضُهُمْ اْلخُلُقَ
بِأَنَّهُ عَادَةُ اْلِارَادَةِ يَعْنِى أَنَّ اْلِإرَادَةَ اِذَا اعْتَادَتْ شَيْأً
فَعَادَتُهَا هِيَ الْمُسَمَّاةُ بِالْخُلُقِ
Artinya:
“Sementara orang
membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan.
Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu
dinakamakan akhlak.”
Makna kata kehendak dan
kata kebiasaan dalam penyataan tersebut dapat diartikan bahwa kehendak adalah
ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedang kebiasaan
ialah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing
dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan
dari kekuatan yang besar inilah dinamakan Akhlak.
Sekalipun ketiga
definisi akhlak diatas berbeda kata-katanya, tetapi sebenarnya tidak berjauhan
maksudnya, Bahkan berdekatan artinya satu dengan yang lain. Sehingga Prof. Kh.
Farid Ma’ruf membuat kesimpulan tentang definisi akhlak ini sebagai berikut:
“Kehendak jiwa manusia
yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan
pertimbangan pikiran terlebih dahulu”.
B. Ciri-ciri Akhlak yang Islami
Persoalan “Akhlak” di
dalam islam banyak dibicarakan dan dimuat pada Al-Qur’n dan Al-Hadits. Sumber tersebut merupakan batasan-batasan
dalam tindakan sehari-hari bagi manusia. Ada yang menjelaskan arti baik dan
buruk. Memberi informasi kepada umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan
bagaimana harus bertindak. Sehingga dengan mudah dapat diketahui, apakah perbuatan
itu terpuji atau tercela, benar atau salah.Kita telah mengetahui bahwa akhlak
islam adalah merupakan system moral/akhlak yang berdasarkan islam, yakni
bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan Allah pada nabi/Rasul-Nya yang
kemudian agar disampaikan kepada umatnya.Akhlak islam, karena merupakan system
akhlak yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula
dengan dasar daripada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar/sumber pokok
daripada akhlak islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang merupakan sumber
utama dari agama islam itu sendiri.
Dinyatakan dalam sebuah
hadits Nabi:
عَنْ اَنَسِ بْنِ ماَلِكٍ
قَالَ النَّبُّى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ
تَضِلُّوْا ماَ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ وَرَسُوْلِهِ
Artinya:
“ Dari Anas Bin Malik
berkata: Bersabda Nabi Saw: Telah kutinggalkan atas kamu sekalian dua perkara,
yang apabila kamu berpegang kepada keduanya, maka tidak akan tersesat, yaitu Kitab
Allah dan Sunah Rasul-Nya”.
Memang tidak disangsikan lagi dengan bahwa segala
perbuatan/tidakan manusia apapun bentuknya pada hakikatnya adalah bermaksud
untuk mencapai kebahgiaan (saadah), dan hal ini adalah sebagai “natijah” dari
problem akhlak. Sedangkan saadah menurut system moral/akhlak yang agamis
(islam), dapat dicapai dengan jalan menuruti perintah Allah yakni dengan
menjahui segala larangan Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, sebagaimana
yang tertera dalam pedoman dasar hidup bagi setiap muslim yakni Al-Qur’an dan
Al-Hadits.Sehubungan dengan Akhlak Islam, Drs. Sahilun A, Nasir menyebutkan bahwa
Akhlak Islam berkisar pada:
Tujuan hidup setiap muslim, ialah
menghambakan dirinya kepada Allah, untuk mencapai keridhaan-Nya, hidup
sejahtera lahir dan batin, dalam kehidupan masa kini maupun yang akan datang.
Dengan keyakinannya terhadap kebenaran
wahyu Allah dan sunah Rasul-Nya, membawa konsekuensi logis, sebagai standar dan
pedoman utama bagi setiap akhlak seorang muslim. Ia memberi sangsi terhadap
akhlak dalam kecintaan dan kekuatannya kepada Allah, tanpa perasaan adanya
tekanan-tekanan dari luar.
Keyakinannya akan hari
kemuadian/pembalasan, mendorong manusia berbuat baik dan berusaha menjadi
manusia sebaik mungkin, dengan segala pengabdiannya kepada Allah.
Ajaran Akhlak Islam meliputi segala segi
kehidupan manusia berdasrkan asas kebaikan dan bebas dari segala kejahatan.
Islam tidak hanya mengajarkan tetapi menegakkannya, dengan janji dan sangsi
Illahi yang Maha Adil. Tuntutan moral sesuai dengan bisikan hati nurani , yang
menurut kodratnya cenderung kepada kebaikan
dan membenci keburukan.
C. Macam-Macam Akhlak
1. Akhlak kepada Allah
Beberapa akhlak yang
sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai mahluk kepada kholiq-Nya,
diantaranya:
1.
Beribadah kepada Allah, yaitu
melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai denganperintah-Nya.
Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.
2.
Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat
Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun
dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.
3.
Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa
saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan
akan keterbatasan dan penerapan akhlak dalam Kehidupan.
4.
Tawakal kepada Allah, yaitu berserah
diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat
dari suatu keadaan.
5.
Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati
di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang
Maha Kuasa, oleh karena itu idak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong,
tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada
Allah.
Seorang muslim harus
menjaga akhlaknya terhadap Allah swt, tidak mengotorinya dengan perbuatan
syirik kepada-Nya. Sahabat Ismail bin Umayah pernah meminta nasihat kepada
Rasulullah saw, lalu Rasulyllah memberinya nasihat singkat dengan mengingatkan,
“Janganlah kamu menjadi manusia musyrik, menyekutukan Allah swt dengan
sesuatupun, meski kamu harus menerima resiko kematian dengan cara dibakar
hidup-hidup atau tubuh kamu dibelah menjadi dua“. (HR. Ibnu Majah).
2. Akhlak kepada Diri Sendiri
Adapun Kewajiban kita
terhadap diri sendiri dari segi akhlak, di antaranya:
1)
Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap
dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap
apa yang menimpanya. Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi
larangan dan ketika ditimpa musibah.
2)
Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas
pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan
dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah
dengan bacaan Alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan
menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.
3)
Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu
menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin.
Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki
yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.
3. Akhlak kepada keluarga
Akhlak terhadap
keluarga adalah mengembangkann kasih sayang di antara anggota keluarga yang
diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Akhlak kepada ibu bapak adalah berbuat
baik kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan. Berbuat baik kepada ibu bapak
dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain : menyayangi dan mencintai
ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur kata sopan dan lemah
lembut, mentaati perintah, meringankan beban, serta menyantuni mereka jika
sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha.Komunikasi yang didorong oleh rasa
kasih sayang yang tulus akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Apabila
kasih sayang telah mendasari komunikasi orang tua dengan anak, maka akan lahir
wibawa pada orang tua.
Demikian sebaliknya, akan lahir kepercayaan orang tua
pada anak oleh karena itu kasih sayang harus menjadi muatan utama dalam komunikasisemua
pihak dalam keluarga.Dari komunikasi semacam itu akan lahir saling keterikatan
batin,keakraban, dan keterbukaan di antara anggota keluarga dan menghapuskan
kesenjangan di antara mereka. Dengan demikian rumah bukan hanya menjadi tempat
menginap, tetapi betul-betul menjadi tempat tinggal yang damai dan
menyenangkan, menjadi surga bagi penghuninya. Melalui komunikasi seperti itu
pula dilakukan pendidikan dalam keluarga, yaitu menanamkan nilai-nilai moral
kepada anak-anak sebagai landasan bagi pendidikan yang akan mereka terima pada
masa-masa selanjutnya.
4. Akhlak kepada Sesama Manusia
Berakhlak baik terhadap
sesama pada hakikatnya merupakan wujud dari rasa kasih sayang dan hasil dari keimanan
yang benar, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Mukmin yang paling sempurna
imanya ialah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling baik diantara kamu
ialah mereka yang paling baik terhadap isterinya“. (HR. Ahmad).
Diantara akhlak-akhlak
itu diantaranya, adalah:
1. Akhlak
terpuji ( Mahmudah ) Penerapan akhlak sesama manusia yang dan merupakan
akhlak yang terpuji adalah sebagai berikut:
- Husnuzan .Berasal dari lafal husnun ( baik ) dan Adhamu (Prasangka). Husnuzan berarti prasangka, perkiraan, dugaan baik. Lawan kata husnuzan adalah suuzan yakni berprasangka buruk terhadap seseorang . Hukum kepada Allah dan rasul nya wajib, wujud husnuzan kepada Allah dan Rasul-Nya antara lain:
-
Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua
perintah Allah dan Rasul Nya Adalah untuk kebaikan manusia
- Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua
larangan agama pasti berakibat buruk
Hukum
husnuzan kepada manusia mubah atau jaiz (boleh dilakukan). Husnuzan kepada
sesama manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan.
Husnuzan berdampak positif berdampak positif baik bagi pelakunya sendiri maupun
orang lain.
- Tawaduk.
Tawaduk
berarti rendah hati. Orang yang tawaduk berarti orang yang merendahkan diri
dalam pergaulan. Lawan kata tawaduk adalah takabur. Rasulullah Saw bersabda :
“Barangsiapa rendah hati kepada saudaranya semuslim maka Allah akan mengangkat
derajatnya, dan barangsiapa mengangkat diri terhadapnya maka Allah akan
merendahkannya” (HR. Ath-Thabrani).
- Tasamu.
Artinya
sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling menghargai sesama manusia.
Allah berfirman, ”Untukmu agamamu, dan untukku agamaku (Q.S. Alkafirun/109: 6)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa masing-masing pihak bebas melaksanakan ajaran
agama yang diyakini.
- Ta’awun.
Ta’awun
berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu dengan sesama manusia.
Allah berfirman, ”…dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan
dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…”(Q.S.
Al Maidah/5:2)
Selain sifat-sifat di
atas masih banyak lagi sifat-sifat terpuji lainya yang menjadi patokan akhlak
kita antar sesame.
2. Akhlak Tercela ( Mazmumah )
Beberapa akhlak tercela
yang harus kita hindari dalam kaitanya akhlak antar sesama diantaranya:
-
Hasad.
Artinya
iri hati, dengki. Iri berarti merasa kurang senang atau cemburu melihat orang
lain beruntung. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Janganlah kamu saling
membenci dan janganlah kamu saling mendengki, dan janganlah kamu saling
menjatuhkan. Dan hendaklah kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara dan tidak
boleh seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari“. (HR. Anas).
- Dendam.
Dendam
yaitu keinginan keras yang terkandung dalam hati untuk membalas kejahatan.
Allah berfirman:
”Dan
jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan
yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhlah itulah yang
terbaik bagi orang yang sabar” (Q.S. An Nahl/16:126)
- Gibah
dan Fitnah
Membicarakan
kejelekan orang lain dengan tujuan untuk menjatuhkan nama baiknya. Apabila
kejelekan yang dibicarakan tersebut memang dilakukan orangnya dinamakan gibah.
Sedangkan apabila kejelekan yang dibicarakan itu tidak benar, berarti
pembicaraan itu disebut fitnah. Allah berfirman,
”…dan
janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada
diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu
merasa jijik…” (Q.S. Al Hujurat/49:12).
- Namimah.
Adu
domba atau namimah, yakni menceritakan sikap atau perbuatan seseorang yang
belum tentu benar kepada orang lain dengan maksud terjadi perselisihan antara
keduanya. Allah berfirman,
”Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa
suatu berita maka telitilah kebenarannya, agar tidak mencelakakan suatu kaum
karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(Q.S. Al Hujurat/49:6)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Akhlak adalah hal yang terpenting dalam
kehidupan manusia karena akhlak mencakup segala pengertian tingkah laku,
tabi’at, perangai, karakter manusia yang baik maupun yang buruk dalam
hubungannya dengan Khaliq atau dengan sesama makhluk. Akhlak ini merupakan hal
yang paling penting dalam pembentukan akhlakul karimah seorang manusia. Dan
manusia yang paling baik budi pekertinya adalah Rasulullah S.A.W.Anas bin Malik
radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan: “Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari
dan Muslim).
B. Saran
Mudah-mudahan makalah
ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan bagi pembaca semuanya. Serta
diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca maupun penyusun
dapat menerapkan akhlak yang baik dan sesuai dengan ajaran islam dalam
kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak sesempurna Nabi Muhammad S.A.W ,
setidaknya kita termasuk kedalam golongan kaumNya.
DAFTAR
PUSTAKA
- Darsono, T. Ibrahim. Membangun Akidah dan Akhlak, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, 200
- Ghoni Asykur, Abdul. Kumpulan Hadits-Hadits Pilihan Bukhori Muslim. Bandung: Husaini
Bandung, 1992
LOMBA BLOG !
BalasHapuspermisi, minat ikut lomba blog ?
Hello bloggers Indonesia! Dalam rangka menyambut Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 H Refiza Souvenir menyelenggarakan blog competition bagi para bloggers. Tuliskan semua hal tentang souvenir Islami dan dapatkan hadiah menarik dari Refiza. . syarat dan ketentuan http://www.refiza.com/blogcompetition2015/